—1
Sebelum usai
Tadinya Radine sedang menulis ungkapkan kalimat cintanya pada Nala di sebuah kertas panjang yang akan ia bentuk menjadi bintang. Radine dengan rutin melakukannya tiap hari, ini adalah bintang ke 990-nya. Yang berarti kurang dari 10 hari hubungan asmaranya dengan Nala akan mencapai hari ke 1000. Hampir tiga tahun.
Tapi pesan dari Jenoah membuatnya berhenti menulis, seketika pikirannya blank. Jantungnya ikut memacu detak lebih cepat. Jenoah mungkin memang pandai berbohong, tapi Radine tau Juan tidak memiliki kekasih. Pemuda itu bahkan baru putus seminggu lalu.
Dadanya tiba-tiba terasa nyeri begitu menyimpulkan, Nalanya telah berbohong. Tadi pagi pemuda itu pamit untuk sibuk seharian membahas rapat himpunan bersama Jenoah. Tapi pesan dari Jenoah membuat Radine berpikir, ia telah dikhianati.
Jaket putih milik siapa?
Nala meminjam mobil untuk menjemput pacarnya yang mana?
Dengan gemetar Radine meraih ponselnya, mendial nomor yang lebih dari dua tahun ini ia hafal di luar kepala. Nomor yang selalu menjadi nomor daruratnya dalam keadaan apapun.
Begitu sambungan terhubung, Raline merapal do'a pada tuhan jika pemikiran buruknya hanya sebuah ketakutan belaka. Tapi rupanya tuhan tak bisa mengabulkan do'a secepat kilat, buktinya di detik berikutnya Radine merasa jantungnya merosot ke bawah. Genggaman pada ponselnya terlepas begitu saja mendengar sahutan dari sebrang telpon, “Na, adek Rara telpon nih, aku angkat ya?”
“Siapa babe?” Radine memutuskan sambungan telponnya begitu mendengar suara Nala rupanya agak jauh dari si pengangkat telpon. Pemuda itu sedikit berteriak.
Tak sampai lima menit ponsel Radine penuh dengan notifikasi, Nala berkali-kali menelponnya yang tentu saja panggilan itu ia tolak. Pemuda itu juga mengiriminya banyak pesan, tapi tak satupun yang Radine baca.
Hatinya sudah patah, tak bisa diselamatkan lagi.
3 tahun mereka ternyata sia-sia.