—Tatto, and you.
Sebagai tanda kalau aku cuma mau jadi punya kamu.
Haechan berkacak pinggang begitu sang kekasih membukakan pintu untuknya, bukannya takut Somi justru terbahak dan langsung menubruk dada bidang didepannya itu. Tangannya menyelip di bawah sela lengan Haechan, mengaitkannya di belakang punggung kokoh itu.
“Hyuck, jangan marah-marah.”
Ujarnya merayu, dengan pipi yang di gesekkan lembut pada dada sang pacar. Haechan menahan geramannya, ia melepas lingkaran tangan Somi ditubuhnya sebelum memanggul tubuh tinggi di depannya itu bak karung beras. Lagi-lagi membuat Somi tertawa, ia menikmati meski kepalanya begitu keras terkocok ke kanan dan ke kiri.
Haechan membawanya ke kamar, lalu melempar begitu saja tubuh ringan Somi ke atas ranjang. Tentu membuat si cantik mengaduh, dengan kepala yang masih tersisa pusing akibat tersungsang barusan.
“Aduh yaaang! Kok di banting sih?”
“Kan aku udah bilang tadi mau banting kamu.”
Haechan melepaskan melepaskan baju hangat yang ia pakai, menggantungnya di tempat gantungan milik Somi. Ia hanya menyisakan kaos oblong putih favoritnya dengan celana setengah paha. Tidak peduli meski sekarang musim dingin, toh ia akan menjemput kehangatan bukan?
“Mana liat nama Donghyuck se-seksi apa nempel di tubuh kamu?”
Haechan merebahkan tubuhnya di samping Somi, menumpu tubuhnya dengan siku dan sedikit miring seolah kini ia berada di atas Somi. Tangannya juga dengan tidak sabar menyingkap kaos pendek yang Somi pakai ke atas dengan begitu lihai. Untuk hal ini memang sudah ke-ahliannya.
“Idih! Baru dateng juga main serobot aja!”
Somi menahan tangan Haechan yang hendak menarik pembungkus dadanya. Ia ikut memiringkan tubuh menghadap Haechan, dan mengerling nakal menggoda sang kekasih.
“Loh tujuan aku kesini kan buat ini emang, minggir tangannya!”
“AHAHAHAHAHAHA”
Haechan menyingkirkan tangan Somi yang menarik ujung kaosnya sendiri ke bawah setelah ia singkap tadi. Sebelah kakinya ia naikkan ke paha Somi, mengunci pergerakan gadis itu. Tangannya kali ini tidak hanya menyingkap tapi menarik lepas kaos yang Somi kenakan. Lalu membuangnya asal ke bawah ranjang.
Tangannya yang lain bergerak menelusuri punggung Somi dari bawah, membuat gadis itu berdesis geli karena elusan yang begitu lembut itu. Jemarinya menyentak pengait bra milik Somi supaya terlepas lalu menariknya asal. Ia meraba tatto baru dengan tulisan 'Donghyuck' yang berada tepat di bawah dada kekasihnya. Membuat Somi terkekeh begitu Haechan tak bersuara dan hanya mengelusinya pelan dengan pandangan yang tak lepas dari tatto barunya.
“Bagus gak?”
Haechan tidak menjawab ia justru menurunkan kepalanya untuk mengecupi bagian dimana namanya tertulis, tidak hanya memberi beberapa kecupan ia juga menyapunya dengan lidah dan sedikit gigitan di atasnya. Membuat Somi meringis menahan sesuatu.
“Hhyuuuckkh...”
“Manis...”
“Apasih orang aku tanya bagus apa enggak? malah jawab manis gak nyambung!”
Haechan mengangkat kepalanya, mengendikan bahu sekilas sebelum kembali menunduk untuk mengecup bibir Somi. Kepalanya lalu di taruh begitu saja di atas dada atas Somi, deket dengan leher mulus kekasihnya, sekali mendongak ia bisa mengecup dagu Somi dari bawah.
“Aku mau marah! Bisa-bisanya kamu nekat tattaoan!”
Somi mengelus kepala Haechan yang masih begitu nyaman berada di atas dada polosnya. Bahkan bibir pemuda itu tak tinggal diam, Haechan mengecupi permukaan dadanya.
“Yaudah bangun kalau mau marah, ini malah makin nempel.”
“Sengaja banget kan kamu tattoan pake namaku biar aku gak jadi marah?”
“AHAHAHAHAHA, ketahuan ya?”
Haechan tidak membalas ucapan Somi, tapi ia kembali mengecupi tatto 'Donghyuck' itu, sesekali menyapa dengan lidah.
Kini ia berpindah menjadi di atas tubuh Somi, menumpu dengan kedua lututnya yang mengunci tubuh Somi supaya tidak bergerak. Lalu melepas celana pendek yang Somi kenakan dengan sekali tarikan. Jarinya begitu ringan mengelus benda di balik gstring tipis itu.
Haechan mengecup dari luar gundukan kesukaannya itu, membuat Somi merinding menahan desahan, ia menelan ludahnya kasar, “Dapet ide darimana buat tattoan begitu hmmm?”
Haechan menggoda dengan memasukkan jarinya kedalam satu-satunya kain yang tersisa di tubuh Somi, mengelus si manis tanpa penghalang.
“Hhyuuckhh...”
“Hmmm, dapet ide dari mana sayang?”
“It means that I'm only yoursssss....”
Somi mendesis, disertai dengan tubuhnya yang sedikit terangkat begitu Haechan memasukkan jarinya ke dalam si manis tanpa penetrasi yang cukup terlebih dahulu.
“Hmmm gitu ya, punya aku...”
Haechan kembali menggoda dengan jarinya yang terus bekerja memuaskan yang di bawah, tapi tatapannya fokus melihat wajah Somi yang memerah dari atas. Ia suka melihat kekasihnya melenguh seperti ini, terlihat panas dan seksi juga imut di waktu yang bersamaan.
“Hyuuuckkh...”
“Apa sayang?”
Haechan menarik jarinya begitu Somi akan mencapai pelepasannya, sekaligus melepas celana dalam yang sedari tadi menghalanginya. Dan sengan sekali sentak di jantan menyatu dengan milik Somi.
Somi menarik tengkuk Haechan, ia menuntut ciuman untuk menghalau perasaan sesak di bawah sana. Cumbuan mereka membara, Haechan menyesuaikan ciumannya dengan tempo hentakannya. Pinggulnya bergerak begitu cepat mengejar kenikmatan, apalagi dengan Somi yang kini hanya bisa mendesah pasrah, dengan mata yang sesekali memejam tak berdaya justru membuatnya begitu bergairah.
“Yaaaaaangg!”
Somi setengah berteriak ketika di rasa ia akan sampai, Haechan justru tercambuk untuk lebih cepat lagi menumbuknya. Hanya beberapa detik setelahnya keduanya meledak, lalu saling memeluk merasakan kehangatan yang menyatu di bawah sana.
Haechan ambruk di atas Somi, ia menyempatkan untuk mengecup singkat bibir bengkak Somi yang tidak sengaja ia gigit tadi sebelum menelusupkan wajahnya di atas dada Somi. Kembali menyapa tatto 'Donghyuck' dengan lembut.
“Lagi ya yaaang?”